5 Nov 2009

pra tesis

Bab I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Masing-masing kota memiliki kawasan atau bangunan yang memiliki peranan dalam sejarah pembentukan kota, namun seiring dengan perkembangan zaman dan waktu, bangunan-bangunan tersebut menjadi terbengkalai dan terlupakan peranan serta eksistensinya. Perlu kita sadari bahwa kebudayaan yang baik adalah budaya yang belajar dan tidak melupakan sejarahnya.

Bangunan heritage maupun bangunan tradisional perlu untuk dilestarikan, namun para pelaku preservasi seringkali terbelenggu dangan kalimat melestarikan yang identik dangan preservasi ataupun konservasi. Yang sering dilakukan adalah mempertahankan kondisi asli dari bangunan tersebut yang memang merupakan hal yang sangat penting tetapi kurang memperhatikan apa yang dapat dikembangkan dari eksisting bangunan yang ada agar bagunan tersebut dapat berjalan dan berfungsi pada periode masa yang sekarang dan dapat bertahan pada masa yang akan datang.

Dengan menciptakan sesuatu yang baru, diharapkan dapat memberikan semangat revitalisasi menjadi lebih bergairah dengan mengkombinasikan perencanaan revitalisasi tidak hanya pada lingkup preservasi dan konservasi tetapi mengkombinasikan rancangan tersebut ke dalam lingkup yang lebih luas atau bahkan menghadirkan sesuatu yang baru.

Hal tersebut sangat penting untuk dikembangkan, karena heritage arsitektural bukan hanya sekedar sebuah objek pengingat dan sejarah suatu periode tertentu tetapi merupakan sebuah fungsi yang dapat dikembangkan dan disisipkan fungsi-fungsi baru di dalamnya seperti tempat rekreasi dan komersial. Dan sangatlah penting untuk menciptakan meaningfull spaces dengan mengkaitkannya dengan geinus loci yang nantinya dapat dikembangkan sebagai model perancangan bangunan heritage. Arsitektural heritage pada akhirnya akan memiliki kaitan yang erat dengan hybridity dan heterogeneity.

Salah satu solusi untuk membangkitkan heritage arsitektural adalah memperlakukannya tidak hanya sebagai suatu bangunan yang patut di preservasi, tetapi juga sebagai suatu komoditas ekonomi dan alat komersial. Untuk menciptakan suatu bangunan heritage sebagai sebuah komoditas tentunya memerlukan pembauran dengan kondisi yang ada, dan hal tersebut berari adanya suatu hibridity atau penyatuan dengan lingkungan sekitar. Juxta position adalah menempatkan sebuah bangunan baru, agar terciptanya sebuah perbandingan yang kontras dengan bangunan yang ada. Dan arsitektur modern terus mengalmi perkembangan untk menciptakan suatu ruang hingga memiliki nuansa imajinasi dan atmosfer sureal dengan tetap mempertahankan simbol-simbol dan bangunan heritage dengan menambahkan elemen-elemen arsitektural baru untuk melengkapi bangunan heritage tersebut.

Keywords: architectural heritage ;hybridity; Juxtaposition ; Pasar 16 Ilir Palembang.

Preseden :Kolomba art museum, Peter Zumthor Caixa Forum Madrid, Herzog de Meuron

image
image


1.2 Permasalahan

Permasalahan yang sering kali terjadi pada bangunan heritage adalah, seringkali bangunan tersebut di preservasi karena nilai sejarah bangunan tersebut tanpa memberikan nilai tambahan agar bangunan tersebut dapat berfungsi tidak hanya sebagai objek arsitektural, tetapi juga memiliki nilai ekonomis agar mampu bertahan.

Permasalahan lainnya adalah tidak adanya reuse pada bangunan heritage yang telah di konservasi, sehingga bangunan tersebut kembali tidak terawat karena tidak ada adaptasi dan pemanfaatan ruang agar bangunan tersebut dapat digunakan pada lingkungan yang terus berkembang.

1.3 Maksud dan Tujuan

- Mengembalikan nilai bangunan yang memiliki kualitas spatial heritage sebagai ruang yang memiliki nilai tambah yang mampu dibangkitkan.

- Memberikan pilihan terhadap arah perancangan dalam preservasi dan konservasi bangunan heritage

- Adaptif re_use sebagai salah satu solusi agar bangunan heritage memiliki fungsi baru ataupun tambahan

- Juxtaposition sebagai arah perancangan agar bangunan heritage memiliki perbandingan terhadap sesuatu yang kontras dan menjadi hybrid dengan lingkungan arsitektural disekitarnya.

1.4 Manfaat

- Memberi sumbangan pemikiran dan rekomendasi mengenai rancangan apa yang bisa di lakukan pada bangunan heritage dan batasan-batasan yang dapat dilakukan dalam melakukan preservasi dan konservasi.

- Memperlakukan bangunan heritage tidak hanya sebagai objek arsitektur sebagai objek preservasi yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi mengungkapkan potensi yang sangat besar dimana bangunan heritage tersebut dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti di bidang ekonomi dan rekreasi.

1.5 Kerangka Berfikir

Text Box: PRESERVASI DAN KONSERVASI MEMILIKI NILAI YANG SAMA PENTINGNYA
Oval: PASAR DI TENGAH KOTA SEBAGAI SOSIAL DAN PUBLIK SPACE

Teori yang digunakan adalah memasukkan bangunan baru pada rangkaian bangunan heritage, dan metoda juxta position digunakan dengan alasan menciptakan sesuatu yang kontras agar dapat menstimulasi secara positif ruang publik dan komersial yang ada di pusat kota tersebut.


1.6 Diagram Kerangka Kerja

Text Box: Historic preservation & heritageText Box: Transformasi / making new space

Text Box: Studi kasus Bangunan heritage / traditional significance - Topik - Latar belakang - Permasalahan - Tujuan

Text Box: Transformasi design Studi design 03 Bangunan baru dan juxtaposition agar bangunan heritage terstimulasiText Box: Transformasi design Studi design 02 Mengkombinasikan identitas heritageText Box: Transformasi design Studi design 01 Mengembangkan identitas bangunanText Box: Identifikasi & klasifikasi Bangunan heritage pada studi kasus


Text Box: Kajian Pustaka

Text Box: analisa


Text Box: Literatur Juxta pd Bangunan komersial & heritage - Preseden - CaixaForum madrid (herzog demeuron) - Kolumba art museum (Peter Zumthor) - Morphosis41 Cooper SquareCooper Union New York, NY -

Text Box: analisa


Text Box: feedback

Text Box: Evaluasi Adaptif reuse Revitalisasi bangunan heritage untuk menghasilkan design yang baikText Box: indikator • Studi preseden / perbandingan • Design output • Kebutuhan stakeholder • Respons masyarakat


Text Box: Gb.I.1 Diagram Kerangka Kerja Sumber : Pribadi

Teori yang mendukung

Dari judul yang saya angkat yaitu juxtaposition untuk bangunan heritage pada pasar 16 ilir Palembang, muncul beberapa pertanyaan yang akan dilontarkan yaitu antara lain kenapa menggunakan teori juxtaposition dan kenapa pada kawasan dan bangunan heritage serta setting yang saya ambil yaitu kawasan pasar.

· Adanya kebutuhan akan identitas tempat, sebagai potensi kawasan dan juga merepresentasikan suatu tempat. Hal ini menjadi suatu kebutuhan ruang pada era global, dan dengan memanfaatkan bangunan heritage yang memiliki kekuatan tempat dapat menjadi suatu nilai tambah yang sangat bermanfaat.

· Keberagaman yang terus berkembang akan menciptakan suatu hybriditas penggunaan. Bangunan yang lama tidak dapat dipertahankan apa adanya karena sudah tidak sesuai dengan konteks jaman dan penggunanya, hal ini membutuhkan adanya penggabungan kebutuhan, mempertahankan identitas bangunan yang ada namun mengembangkannya dengan penggabungan antara yang lama dengan yang baru agar dapat tercipta sesuatu yang segar dan dinamis dan diharapkan juga dapat menstimulasi kegiatan yang ada dengan cara yang positif.

· Juxtaposition adalah suatu metoda desain untuk menciptakan contrast antara yang lama dengan yang baru. Namun tetap memperhatikan link diantara keduanya, agar tetap tercipta harmony dan keseimbangan. Salah satu cara untuk menyesuaikan bangunan baru pada bangunan yang lama adalah dengan menggunakan metoda juxtaposition tersebut.

· Setting yang di ambil adalah kawasan komersial lama di kota Palembang yaitu pasar 16 ilir Palembang. Hal ini bertujuan karena pasar-pasar lama / tradisional sering kali “terpinggirkan” dengan adanya bangunan-bangunan komersial baru yang serba ada dan lengkap di dalam satu wadah. Sering kali terjadi dimana pasar-pasar tradisional yang memiliki makna historis, makna tempat dan memiliki identitas yang kuat pada masyarakat menjadi tergusur dan digantikan dengan bangunan “baru”. Dalam kasus pasar 16 ilir hal ini diharapkan tidak terjadi, karena ditemukan beberapa buah bangunan yang “layak” untuk dipertahankan karena memiliki potensi untuk dapat dikembangkan.

Beberapa kutipan yang mendukung antara lain :

Heterogenity dan hybridity

· Population implosion and interaction imply a variety of interchange and diversity between cultures resulting in the phenomenon of heterogeneous architecture (Jencks, 1993). Hybrididy -a notion appeared in the 80s in the work of Homi Bhabha- translates the discourse that actually produce “constructions” of cultural and national identity (AlSayyad 2001).

· Architectural heritage is not just a reminder of history but it is a need for development to accommodate inset functions like holidays and tourism -it is important to create meaningful spaces by recognition of the particularities and the genius loci (Norberg-Sculz, 1980) that shapes built environment- and it is used as amodel for heritage development. “

· The architectural heritage is perceived as an economic commodity intended for consumption (Mitchell, 2002).

· The consumption of architectural heritage as a form of cultural good and the “making” of architectural heritage as a trading good, constitute the same argument.

· In the beginning of the 21st century, a multi representation of architectural heritage under the definition of “neotraditional” appears (Soya, 2000,p. 248) with the principles of which new settlements are built. The juxtapositions as well as the threefold debates of architectural heritage are included therein, as it was described.

· The modern traditional representations of architectural heritage are practiced in different ways creating spaces of a dreamlike ambience by the use of basic symbolism systems of our virtual culture. The speed of consumption of the architectural heritage doesn’t leave space for authenticity and hybridization comes along

Conclusion

The hybrids and what will evolve in future time perhaps will constitute architectural heritage. In the etymological sense of architectural heritage, however, the representations and (re)constructions – with all the deconstructing hybridity-

are an architectural product that will be transferred to the coming generations and their duration and end are to determine whether they will be fertile or sterile chapters of the history of architecture.

Gambaran umum kawasan.

Peta kawasan

Kawasan pasar 16 ilir merupakan kawasan perdagangan yang ada sejak masa pemerintahan Belanda di kota Palembang, sejalan dengan perkembangan kota, kawasan ini menjadi semakin padat akan kios-kios pedagang kaki lima. Terpal Plastik dijadikan sebagai pelindung dari sinar matahari dan hujan di sepanjang jalan di sekitar Pasar 16 Ilir. Pada tahun 2003, Pemerintah Kota Palembang melakukan penataan dan penertiban pedagang kaki lima di kawasan tersebut. Di rubuhkannya lapak-lapak kayu dan terpal plastik di sepanjang jalan pasar menimbulkan pemandangan lain yang selama ini luput dari perhatian yaitu deretan ruko yang berada di sepanjang jalan itu adalah bangunan tua peninggalan Belanda.

Peta eksisting ruko

Sebagian besar bangunan ruko tersebut berada dalam kondisi lusuh karena tidak terawat, namun demikian arsitektur bangunan yang khas terlihat menonjol diantara keberadaan bangunan modern yang ada di lingkungan kota Palembang. Bangunan-bangunan ruko tersebut menampilkan beberapa variasi gaya arsitektur kolonial Belanda. Gaya arsitektur modern seperti Art Deco yang menonjol antara lain terlihat pada bagian atap berupa tembok yang diukir, jendela-jendela tinggi berjalusi dan warna dinding yang kebanyakan berwarna putih atau krem. Pada salah satu blok bangunan ruko lama tersebut menampilkan gaya arsitektur Cina yang tampak dari bentuk tampak samping atap. Pada tahun 2005 Pemerintah kota Palembang berencana merevitalisasi kawasan sekitar pasar 16 ilir Palembang tersebut. Setelah lapak-lapak yang selama ini menutupi badan jalan kawasan itu digusur, pemkot berencana meremajakan deretan gedung tua yang ada di sepanjang jalan Pasar Baru.

Foto pasar 16 ilir pembersihan

Namun sangat di sayangkan ketika teknis pelaksanaan revitalisasi kawasan tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Revitalisasi tersebut hanya dilakukan terhadap pembersihan fisik bangunan yang ada seperti melakukan pengecat an ulang dinding bangunan tua, dan menggapi atap bangunan dengan menggunakan ranga zincalum. Setelah peremajaan wajah bangunan tersebut dilakukan dengan koleksi informasi yang sedikit dan perencanaan yang tidak maksimal, secara fisik tampak bangunan nya terlihat lebih menarik, namun permasalah lingkungan dan penggunaan bangunan tersebut tetap tidak ada perubahan, masyarakat lebih senang menggunakan jalur-jalur trotoar dalam berdagang dan pedagang kaki lima pun kembali memadati jalan dengan menggelar tenda-tenda dan kembali menutupi keindahan kawasan komersial kota tersebut.

Foto pasar 16 lir sekarang

Tulisan ini bertujuan untuk mensimulasikan perancangan kawasan komersial kota tersebut agar mengakomodir kebutuhan masyarakat kota dan berusaha meng elaborasi eksisting ya ada dengan teori arsitektur modern berupa hybiridty dan melakukan juxtaposition pada bangunan lama, agar masyarakat kota yang menggunakan bangunan tersebut dapat terstimulasi baik menuju perubahan atau setidaknya melalui sebuah proses arsitektural dimana masyarakat tersebut dapat menjalankan proses perdagangan, namun tetap menjaga lingkungan dengan mengapresiasi bangunan arsitektural yang di rencanakan untuk mereka.

Dengan demikian dapat tercipta suatu lingkungan binaan yang ber sinergi, suatu ruang komersial di tengah kota yang juga dapat menjadi ruang rekreasional dan dapat menunjang wisata kota Palembang tersebut.

Lingkup perancangan

Daftar pustaka

1. Architecture in context fitting new buildings with old, Brolin, Brent C. Van Nostrand Reinhold company

2. Preserving and Restoring Monuments and Historic Buildings, Unesco Paris

3. Heritage planning conservation as the managment of urban change, G.J. Ashworth-groningen : geo pers.

4. Conservation of historic buildings: third edition ; Bernard M. Feilden

5. Conservation and Sustainability in Historic Cities ; Dennis Rodwell

Preseden pada juxtaposition

http://www.greatbuildings.com/gbc/images/cid_1160196264_30_St_Mary_Axe_3.150.jpg

Gerkin, 30 St Mary Axe : sir norman foster

Image

Morphosis
41 Cooper Square
Cooper Union

New York, NY


Faneuil hall market. Boston USA (Quincy market)

Victoria park market. Melbourne

0 comments:

Posting Komentar

all images are copyright of : derrie81@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Copyright 2008 muhammadfajriromdhoni. created by kreaSiguntang © by muhammadfajriromdhoni